

d
i
s
u
s
u
n
oleh
kelompok I :
Ø LA
ZEKI
Ø AHMAD
Fadha’il ZARSADIN
Ø ALAN
MISWARI NAHUMARURY
Ø ZANNA
A REHALAT
Kementrian agama madrasah aliyah negeri 2
ambon
tahun 2013/2014
Daftar isi
Kata pengantar
.............................................................................................
i
Daftar isi
.......................................................................................................
ii
BAB I. Pendahuluan
A. Latar belakang
..............................................................................1
B. Rumusan masalah
........................................................................1
C. Tujuan penulisan
..........................................................................1
BAB
II. Pembahasan
A. zina ...............................................................................................2
B. qadzaf
...........................................................................................4
BAB III. Penutup
A. Kesimpulan
....................................................................................6
B. Saran
.............................................................................................
6
DAFTAR
PUSTAKA
ii
KATA PENGANTAR

Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat
dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul
zina dan qadzaf. Pada makalah ini kami banyak mengambil dari berbagai sumber
dan refrensi dan pengarahan dari berbagai pihak .oleh sebab itu, dalam
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-sebesarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusunan
menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini sangat jauh dan sempurna, untuk itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan
laporan ini.
Akhir
kata penyusun mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
untuk semua pihak yang membaca…
TULEHU,
5 NOVEMBER 2012
Penyusun,
i
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Persoalan
menuduh seseorang sebagai pemerkosa atau penzina adalah kesalahan yang serius
dalam Islam. Malahan Islam membuat kehormatan pada salah satu dari lima
kebutuhan dasar yang mesti dijaga dalam Islam. Manakala sesuatu tuduhan zina
pada seseorang tanpa barang bukti adalah salah satu dari tujuh dosa besar.
Berkaitan
dengan perbuatan ini, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits dari Abu
Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim juga agar kaum muslimin
sangat berhati-hati dalam melemparkan tuduhan keji atau tuduhan zina. Sehingga
hukum hududpun seharusnya ditinggalkan tanpa adanya bukti dan saksi yang sahih.
إدرؤ الحدود بالشبهات
Artinya
: “Tinggalkan hudud karena perkara-perkara yang syubhat atau yang masih
samar-samar”.
Oleh
karena itu, tidak ada siapapun yang boleh menuduh zina pada orang lain tanpa
mengemukakan 4 orang saksi laki-laki yang adil yang melihat dengan jelas
kejadian zina atau perkosaan yang telah dilakukan, seperti ibarat mereka dapat
melihat bagaimana sebuah pena dimasukkan kedalam tutupnya atau seperti sebuah
timba yang jatuh dalam sumur. Barulah boleh dianggap saksi. Jika sekiranya
hanya “berbaring diatas” tanpa dapat melihat yang dinyatakan tadi, maka tidak
dianggap saksi.
Perkara
ini memang sukar, karena Hudud tidak boleh dilaksanakan jikalau terdapat suatu
keraguan. Tetapi ini tidak berarti bahwa si pelaku yang berbuat tidak dijatuhi
hukuman, karena jika hukumannya ditetapkan bukan melalui jalan saksi, maka ia
akan dikenakan takzir. Bukankah takzir juga cukup untuk menghukum orang yang
berbuat salah tersebut.
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun permasalahan yang akan pemakalah
paparkan dalam makalah ini adalah:
1) Apa yang dimaksud Qadzaf dan zina?
2) Apa Hukuman bagi orang yang melakukan Qadzaf?
3) Unsur-unsur zina dan qadzaf?
4) macam-macam zina?
5) hikmah zina dan qadzaf?
C.
TUJUAN PENULISAN
a.
mengetahui pengertian zina dan
qadzaf
b.
mengetahui hukum-hukumnya
c.
mengetahui ayat-ayat dan hadis
yang ada pada zina dan qadzaf
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. ZINA
1.
PENGERTIAN ZINA
Zina (الزنا ) adalah
persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa
nikah yang sah mengikut hukum syarak (bukan pasangan suami isteri) dan
kedua-duanya orang yang mukallaf, dan persetubuhan itu tidak termasuk dalam
takrif (persetubuhan yang meragukan). Jika seorang lelaki melakukan
persetubuhan dengan seorang perempuan, dan lelaki itu menyangka bahawa
perempuan yang disetubuhinya itu ialah isterinya, sedangkan perempuan itu bukan
isterinya atau lelaki tadi menyangka bahawa perkahwinannya dengan perempuan
yang disetubuhinya itu sah mengikut hukum syarak, sedangkan sebenarnya
perkahwinan mereka itu tidak sah, maka dalam kasus ini kedua-dua orang itu
tidak boleh didakwa dibawah kes zina dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud,
kerana persetubuhan mereka itu adalah termasuk dalam wati’ subhah iaitu
persetubuhan yang meragukan.
Zina adalah setiap persetubuhan yang terjadi bukan karena pernikahan
yang sah, bukan karena nikah, dan bukan pula karena pemilikan (terhadap hamba).
Secara garis besar, pengertian ini telah disepakati oleh para ulama islam,
meski mereka masih berselisihpendapat tentang manakah yang dikatakan syubhat,
yang menghindarkan hukuman hadd, dan mana pula yang tidak menghindarkan hukuman
tersebut.
Ulama Malikiyah mendefinisikan zina me-wathi nya seorang laki-laki
mukallaf terhadap faraj wanita yang bukan miliknya dilakukan dengan sengaja.
Ulama Syafi’iyah mendefinisikan bahwa zina adalah memasukkan zakar kedalam
faraj yang haram dengan tidak syubhat dan secara naluri memuaskan hawa nafsu.
2.
UNSUR-UNSUR ZINA
Meskipun para Ulama berbeda pendapat
dalam mendefinisikan zina, tetapi mereka sepakat terhadap dua unsure zina,
yaitu wathi haram dan sengaja atau ada I’tikad jahat. Seseorang dianggap
memiliki I’tikad jahat apabila ia melakukan perzinaan dan ia tahu bahwa
perzinaan itu haram.
Yang dimaksud Wathi haram ialah Wathi
pada paraj wanita bukan istrinya atau hambanya yang masuknya zakar itu seperti
masuknya ember kedalam sumur dan tetap dianggap zina meskipun ada penghalang
antara zakar dengan farajnya selama penghalang itu tidak menghalangi
kenikmatan.
3.
MACAM-MACAM ZINA ANGGOTA
TUBUH
zina dengan kedua mata: memandang
wanita yang tidak halal, misalnya memandang wanita yang bukan muhrimnya.
Rasulullah SAW bersabda:
زِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظْرُ
“Zina kedua mata ialah memandang wanita
yang bukan muhrim.” (H.R. Ibnu Sa’ad, Thabrani, dan Abu Nu’Aim dari Alqamah bin
Huwarits)
2
Adapun Rasulullah SAW bersabda:
نَظْرُ الآَجْنَبِيَّا تِ مِنَ الكَبَا ئِر
“Memandang wanita ajnabiyyat (bukan
muhrim) termasuk dosa-dosa besar”
Keterangan: Kata Ajnabiyyat, artinya wanita
yang halal dinikahi. Termasuk dosa besar, yakni jika dalam pandangan tersebut
menimbulkan nafsu dan kecenderungan hati kepadanya, tetapi jika tidak, tidak
termasuk dosa besar.
Yaitu zina kedua kaki: Yaitu barjalan ketempat maksiat.
Seperti berjalan ke tempat-tempat yang di larang oleh agama.
Yaitu zina dengan kedua tangan: Yaitu
bertindak dengan tangannnya dengan cara kekerasan tanpa alasan yang dibolehkan.
Maka Rasulullah SAW bersabda:
زِنَا الرِّجْلَيْنِ المَشْيُ وَزِنَا الْيَدَيْنِ الْبَطْشُ وَ زِنَا العَيْنَيْنِ النَّظْرُ
“ Zina kedua kaki adalah berjalan, dan
zina kedua tangan adalah bertindak dengan kasar, serta zina kedua mata ialah
memandang kepada yang tidak halal”
Yaitu zina kedua telinga, ialah
mendengar sesuatu yang membuka ‘aib seseorang/ mendengarkan yang tidak baik
(menguping).
Yaitu zina lisan, ialah sesuatu yang
membuka ‘aib seseorang, beerkata-kata yang kasar, dan berkata-kata yang tidak benar (menuduh) seseorang
berzina,
Yaitu zina dengan hidung, ialah mencium
yang bukan muhrim, atau mencium parfum seseorang yang bukan muhrim apabila Ia
bersyahwat.
Yaitu degan faraj, ialah memasukkan
kemaluan laki-laki kedalam kemaluan perempuan yang tidak halal disetubuhi/yang
bukan muhrim.
Maka Rasulullah SAW bersabda :
زَنْيَةٌ وَاحِدَةُ تُحْبِطُ عَمَلَ سَبْعِيْنَ سَنَةً
“Melakukan zina satu kaliakan
menghapuskan amal selama tujuh puluh tahun.”.
4.
PENGGOLONGAN ZINA
ZINA TERBAGI MENJADI DUA :
1. ZINA MUHSAN
Yaitu lelaki atau perempuan yang telah pernah melakukan
persetubuhan yang halal (sudah pernah menikah) .Perzinaan yang boleh dituduh
dan didakwa dibawah kesalahan Zina Muhsan ialah lelaki atau perempuan yang
telah baligh, berakal, merdeka dan telah pernah berkahwin, iaitu telah merasai
kenikmatan persetubuhan secara halal.
2. ZINA BUKAN
MUHSAN
Yaitu lelaki atau perempuan yang belum pernah melakukan
persetubuhan yang halal (belum pernah menikah).Penzinaan yang tidak cukup
syarat-syarat yang disebutkan bagi perkara diatas tidak boleh dituduh dan
didakwa dibawah kesalahan zina muhsan, tetapi mereka itu boleh dituduh dan
didakwa dibawah kesalahan zina bukan muhsan mengikut syarat-syarat yang
dikehendaki oleh hukum syarak.
5.
HUKUMAN
a.
Seseorang yang melakukan zina
Muhsan, sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan keatas mereka hukuman
had (rejam) Yaitu dibaling dengan batu yang
3
sederhana besarnya hingga mati. Sebagaimana yang dinyatakan
di dalam kitab I’anah Al- Thalibin juzuk 2 muka surat 146 yang bermaksud :
“”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina muhsan wajib
dikenakan keatas mereka had (rejam), iaitu dibaling dengan batu yang sederhana
besarnya sehingga mati ””.
b.
Seseorang yang melakukan zina
bukan muhsan sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan ke atas mereka
hukuman sebat 100 kali sebat/cambuk dan di buang keluar negeri/diasingkan
selama setahun sebagaimana terdapat di dalam kitab Kifayatul Ahyar juzuk 2 muka
surat 178 yang bermaksud :
“”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina bukan muhsin
wajib dikenakan keatas mereka sebat 100 kali sebat dan buang negeri selama
setahun””.
c.
Perempuan-perempuan yang dirogol atau diperkosa oleh lelaki yang
melakukan perzinaan dan telah dukung dengan bukti –bukti yang diperlukan oleh
hakim dan tidak menimbulkan sebarang keraguan dipihak hakim bahawa perempuan
itu dirogol dan diperkosa, maka dalam kasus ini perempuan itu tidak boleh
dijatuhkan dan dikenakan hukuman hudud,dan ia tidak berdosa dengan sebab
perzinaan itu.
d. Lelaki yang
merogol atau memperkosa perempuan melakukan perzinaan dan telah ditetapkan
kesalahannya dengan bukti – bukti dan keterangan yang dikehendaki oleh hakim
tanpa menimbulkan keraguan dipihak hakim, maka hakim hendaklah menjatuhkan
hukuman hudud keatas lelaki yang merogol perempuan itu, iaitu wajib dijatuhkan
dan dikenakan ke atas lelaki itu hukuman rejam dan sebat.
e.
Perempuan-perempuan yang telah disebutkan oleh hakim bahawa ia adalah
dirogol dan diperkosa oleh lelaki melakukan perzinaan, maka hakim hendaklah
membebaskan perempuan itu dari hukuman hudud (tidak boleh direjam dan disebat)
dan Allah mengampunkan dosa perempuan itu di atas perzinaan secara paksa itu.
B. QADZAF
1.
PENGERTIAN QADZAF
Jarimah atau Jinayah menurut Abd.
Al-Qadir Awdah adalah “Perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik perbuatan itu
mengenai jiwa, harta benda, atau lainnya”. Jadi jinayah merupakan suatu
tindakan yang dilarang oleh syara’ karena dapat menimbulkan bahaya bagi jiwa,
harta, keturunan, dan akal. Sedangkan menurut al-Mawardi Jarimah atau Jinayah
adalah “Larangan-larangan syara’ yang diancam oleh Allah dengan hukuman had
atau ta’zir”.
Qadzaf ialah melemparkan tuduhan zina kepada orang yang baik-baik lagi
suci bahwa ia telah berbuat zina.. Yaitu maksudnya qadzaf ialah membuat tuduhan
zina yang tidak dibuktikan terhadap seorang Islam yang akil baligh dan dikenali
sebagai seorang yang bersih dari perbuatan zina tanpa pembuktian dengan empat
orang saksi laki-laki. Qadzaf boleh berlaku dengan membuat kenyataan secara
jelas seperti mengatakan seseorang itu telah berzina, atau dengan cara tersirat
seperti menyatakan bahwa seseorang itu bukan anak atau bukan bapak kepada
seseorang tertentu.
4
2.
UNSUR-UNSUR QADZAF
Unsur-unsur qadzaf ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
1. Adanya tuduhan
zina atau menghilangkan nasab
Unsur ini dapat terpenuhi apabila pelaku menuduh korban
dengan tuduhan melakukan zina atau tuduhan yang menghilangkan nasabnya, dan ia
(pelaku penuduh) tidak mampu membuktikan yang dituduhkannya.
Tuduhan zina kadang-kadang menghilangkan nasab korban dan
kadang-kadang tidak. Kata-kata seperti ياابن الزنا “Hai anak zina”, menghilangkan nasab anaknya dan sekaligus menuduh
ibunya berbuat zina. Sedangkan kata-kata seperti يازانى “Hai
pezina” hanya menuduh zina saja dan tidak menghilangkan nasab atau
keturunannya.
2. Orang yang
dituduh harus orang muhshan
Dasar hukum tentang syarat ihsan untuk maqzuf (orang yang
tertuduh) adalah:
a. Surat An-Nuur ayat 23
3. Adanya niat melawan hukum
Unsur melawan hukum dalam jarimah qadzaf dapat terpenuhi
apabila seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan zina atau menghilangkan
nasabnya, padahal ia tahu bahwa apa yang dituduhkannya tidak benar. Dan
seseorang dianggap mengetahui ketidakbenaran tuduhan apabila ia tidak mampu
membuktikan kebenaran tuduhannya.
Ketentuan ini didasarkan kepada ucapan Rasulullah saw.
Kepada Hilal ibn Umayyah ketia ia menuduh istrinya berzina dengan Syarik ibn
Sahma’:
“Datanglah saksi, apabila tidak bisa mendatangkan saksi
maka hukuman had akan dikenakan kepada kamu” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’ la)
Atas dasar inilah jumhur fuqaha berpendapat bahwa apabila
saksi dalam jarimah zina kurang dari empat orang maka mereka dikenai hukuman
had sebagai penuduh, walaupun menurut sebagian yang lain mereka tidak dikenai
hukuman had, selama mereka betul-betul bertindak sebagai saksi.
3.
PELAKSANAAN HUKUM QADZAF
Hukuman untuk jarimah qadzaf ada dua macam, yaitu sebagai
berikut.
1. Hukuman pokok, yaitu jilid atau dera sebanyak delapan
puluh kali, hukuman ini merupakan hukuman had, yaitu hukuman yang sudah
ditetapkan oleh syara, sehingga ulil amri tidak mempunyai hak untuk memberikan
pengampunan. Adapun bagi orang yang dituduh, para ulama berbeda pendapat.
Menurut mazhab Syafii, orang yang dituduh berhak memberikan pengampunan, karena
hak manusia lebih dominan dari pada hak Allah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi
bahwa korban tidak berhak memberikan pengampunan, karena di dalam jarimah
qadzaf hak Allah lebih dominan dari pada hak manusia.
2. Hukuman tambahan, yaitu tidak diterima persaksiannya
Kedua macam hukuman tersebut didasarkan kepada firman Allah
dalam Surah An-Nuur ayat 4:[4]
Had qadzaf bisa gugur bila si penuduh dapat mendatangkan
empat orang saksi, karena dengan adanya para saksi itu berarti alternative
negative yang mengharuskan had
menjadi lenyap. Jika demikian, maka si tertuduh harus
dihadd karena berzina. Demikian
5
juga bila si tertuduh itu mengaku berzina atau mengaku atas
kebenaran tuduhan penuduhnya.
Jika seorang istri menuduh zina suaminya, maka ia harus di-
had bila syarat-syarat untuk menjatuhkan had itu sudah terpenuhi. Akan tetapi,
jika suami menuduh zina kepada istrinya dan ia tidak dapat mendatangkan
bukti-bukti, maka ia tidak dapat dijatuhi had, hanya saja ia harus bersumpah
li’an, apabila si suami tidak dapat mendatangkan bukti-bukti dan juga tidak mau
bersumpah li’an, maka ia pun harus dijatuhi had qadzaf.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Maka Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada dosa yang lebih besar
dihadapan Allah Ta’ala setelah Syirik (menyekutukan Allah) daripada seorang
laki-laki yang meletakkan air mani’ nya pada seorang wanita yang tIdak halal
(melakukan zina).” (H.R. Ibnu Abi Dunya dari Haitsim bin Malik ath Thai).
Hadis diatas menyatakan bahwa
sesungguhnya zina merupakan dosa terbesar dari dosa-dosa besar setelah kufur.
Akan tetapi, hadis yang lebih sahih daripada ini menerangkan bahwa membunuh
merupakan dosa terbesar setelah menyekutukan Allah.
Dari pembahasan
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Hukuman
untuk jarimah qadzaf ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
1.
Hukuman pokok, yaitu jilid atau dera sebanyak delapan puluh kali, hukuman ini
merupakan hukuman had, yaitu hukuman yang sudah ditetapkan oleh syara, sehingga
ulil amri tidak mempunyai hak untuk memberikan pengampunan. Adapun bagi orang
yang dituduh, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Syafii, orang yang
dituduh berhak memberikan pengampunan, karena hak manusia lebih dominan dari
pada hak Allah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi bahwa korban tidak berhak
memberikan pengampunan, karena di dalam jarimah qadzaf hak Allah lebih dominan
dari pada hak manusia.
2. Hukuman tambahan, yaitu tidak
diterima persaksiannya
Sedangkan pembuktiannya untuk
jarimah qadzaf adalah dengan saksi, pengakuan, dan sumpah
B.
SARAN
Demikianlah makalah yang
dapat kami susun, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan
saran yang membangun sangatlah diharapkan penulis untuk memperbaiki makalah
ini. Penulis juga minta maaf apabila ada penulisan atau ulasan yang salah atau
kurang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
6
DAFTAR PUSTAKA
(2002), Al-Qur’an Terjemah, Jakarta; Depag RI
Al-Hafiz, Abu Mazaya, Al-Sahafi, Abu Izzat, (2004),
Fiqh Jenayah Islam, Kualalumpur; Al-Hidayah
Sabiq, Sayyid, (1983), Fiqh Sunnah, Semarang; Birut
Dar al-Fikr
Bahansi, Fathi. Al-siyasahn al-jinayah
Djazuli. 1997. Fiqih Jinayah. Grafindo Persada:
Jakarta
Diibul Bigha, Musthafa. 1984. Fiqih Syafi’i. Bintang
Pelajar: Jakarta
Ja’far, Abidin. 2006. Hadits Nabawi. MT. Furqan: Banjarmasin
Muhammad, Syekh. 1994. Penafsiran Hadis Rasulullah SAW
secara kontekstual. Trigenda Karya: Bandung
Rusyd, Ibnu. 1990. Bidayatul Mujtahid. Asy-Syifa:
semarang
Sabiq, Sayyid. 1995. Fiqih Sunah 9. Al-Ma’arif: Bandung
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Asy-Syifa, (Semarang:
1990).
Drs. H. A. Djazuli, Fiqih Jjinayah, PT. Grafindo
Persada, (Jakarta: 1997),
H. Abidin Ja’far, Lc., MA, Hadits Nabawi, CV. MT.
Furqan, (Banjarmasin: 2006).
Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani,
Penafsiran Hadis Rasulullah SAW Secara Kontekkstual, Trigenda Karya, (Bandung:
1994),
Fathi Bahansyi,
Al-Siyasah al-Jinayah,
Sayyid Sabiq,
Fiqih Sunah 9, PT. Al-Ma’arif, (Bandung: 1995),
Musthafa Diibul
Bigha, Fiqih Syafi’I, CV. Bintang Pelajar, (Jakarta: 1984),
Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam,
Jakarta: Sinar Grafika, 2005
Imam Hasan al-Banna, Fiqih Sunnah Jilid 3, Jakarta:
Pena Pundi Aksara, 2007
“makalah
fiqi”
zina dan qadzaf

d
i
s
u
s
u
n
oleh
kelompok I :
Ø LA
ZEKI
Ø AHMAD
Fadha’il ZARSADIN
Ø ALAN
MISWARI NAHUMARURY
Ø ZANNA
A REHALAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar